ABOUT BETAWI :


Meriahkan HUT Jakarta Dengan Kebaya Encim Dan Sadariah

Meriahnya perayaan ulang tahun jakarta yang ke-483 sudah terasa sejak Jumat (18/06) dengan dibukanya Festival Jakarta Great Sale 2010. Tidak cukup sampai di situ, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo telah mengeluarkan Surat Edaran nomor 27/SE/2010 tentang Peringatan HUT ke-483 Kota Jakarta ke seluruh jajaran Pemprov DKI.

Isi surat edaran tersebut antara lain mengimbau seluruh jajaran Pemprov DKI harus menggunakan logo dan tema HUT Jakarta ke-483 dalam setiap aktivitas surat menyurat yang berkaitan dengan peringatan HUT. Kemudian mengimbau agar menata, menghias, dan mempercantik kantor, tempat/fasilitas umum dan ruang terbuka lainnya dengan memasang spanduk atau prisma board atau umbul-umbul yang memuat logo dan tema HUT selama bulan Juni 2010.

Surat edaran itu juga berisi imbauan kepada seluruh karyawan, organisasi, dan masyarakat Jakarta untuk ikut mengenakan busana sadariah untuk kaum laki-laki dan kebaya encim untuk perempuan pada tanggal 22 Juni 2010. “Kami harap semua itu dapat dilaksanakan seluruh pihak agar HUT Kota Jakarta semakin meriah. Karena pada prinsipnya HUT Kota Jakarta bukan hanya milik Pemprov DKI, melainkan juga milik seluruh elemen masyarakat,” ujar Mara Oloan Siregar, Asisten Kesejahtaraan Masyarakat (Askesmas) DKI Jakarta.

Pada hari ini, Minggu (20/6) akan digelar berbagai macam kegiatan yang tersebar di seantero Jakarta, di antaranya:

* Jakarta International 10K bertempat di Silang Monas Barat Daya, Jakarta Pusat, pukul 06.00.
* Jak Fox Hunting 2010 bertempat di Lapangan eks-IRTI, Taman Monumen Nasional, pukul 08.00.
* Stop Nyampah di Kali di Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat.
* Pesta Kembang Api di Arena Pekan Raya Jakarta.
* Jakarta Metropolitan Rally di Ancol.
* Street Footbal (Nike Cup Jakarta 2010) di halaman parkir Kota Tua (Musium Fatahillah).
* Sepeda massal bersama Komunitas Ontel dan Pendidikan Jakarta Selatan di Kantor Walikota Jakarta Selatan.
* Batavia Art Festival di Taman Museum Fatahillah.
* Malam puncak Panggung Hiburan Rakyat Tingkat Kota di halaman Kantor Walikota Jakarta Timur.
* Pemilihan Abang dan None Jakarta Selatan di Balaik Kartini, Jakarta Selatan.

Anda bebas untuk berpartisipasi di hari libur ini memeriahkan HUT Jakarta.





====================================================================================

Kuliner : Aneka Makanan Khas Betawi nan Lezat

MAKANAN khas Jakarta dikenal memiliki rasa yang gurih dan cukup menarik

1. Kerak Telor
Penganan yang satu ini identik dengan Pekan Raya Jakarta (PRJ). Sebab, kerak telor selalu dijumpai setiap kali PRJ digelar. Saat ini, kerak telor menjadi makanan langka. Meski merupakan penganan khas Betawi, penjualnya justru kebanyakan berasal dari Sunda, Jawa Barat.

Kerak telor memiliki rasa yang gurih. Rasa gurih itu datang dari bahan-bahan yang digunakan di dalamnya, yaitu beras ketan putih, telur ayam atau bebek, udang yang digoreng kering, bawang merah goreng, kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica, garam, dan gula pasir. Rasa gurih pada kerak telor bersumber dari campuran udang, bawang merah, kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica, dan gula pasir.

2. Kembang Goyang
Sama seperti kerak telur, camilan khas Betawi ini juga sudah mulai jarang ditemui. Padahal rasanya yang gurih cukup menarik untuk dijadikan sebagai teman minum teh. Tidak percaya? Coba cari snack tersebut di pasar, lalu jadikan teman minum teh. Apabila tidak menemukan penjualnya, Anda dapat membuat sendiri. Siapkan tepung beras, gula, telur, santan, minyak goreng, dan cetakan kembang goyang. Kocok telur dan gula hingga lembut.

Masukkan tepung dan santan. Adukaduk hingga tercampur dan adonan licin. Lalu, panaskan minyak di wajan. Celupkan cetakan kembang goyang ke minyak panas hingga panas. Celupkan cetakan ke adonan. Celup lagi cetakan ke minyak panas. Setelah itu goyang-goyangkan hingga adonan lepas.

3. Roti Buaya

Pembuatan roti berbentuk buaya sebenarnya terinspirasi dari kebiasaan buaya yang hanya menikah sekali sepanjang hidupnya. Nah, berangkat dari situ, roti buaya dijadikan sebagai simbol kesetiaan pasangan yang telah menikah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika roti buaya selalu hadir di setiap acara pernikahan adat Betawi.

Sekarang, mencari roti buaya terbilang sulit. Tidak semua toko roti menjualnya. Jika ingin membeli roti buaya, orang juga biasanya harus memesannya terlebih dahulu. Padahal membuat roti buaya tidaklah sulit. Bahan-bahannya yang terdiri dari terigu, gula pasir, margarin, garam, ragi, susu bubuk, telur, dan pewarna mudah diperoleh. Hanya, membentuk adonan hingga menyerupai buaya memerlukan kesabaran bagi yang tidak terbiasa membuatnya.

4. Kue Rangi
Kue khas Betawi itu kini jarang ditemui. Meski demikian, beberapa resto mulai menawarkan kembali hidangan tersebut. Kue rangi atau biasa disebut sagu rangi terbuat dari tepung kanji dicampur dengan kelapa yang diparut kasar. Dahulu, orang memanggang kue rangi dengan memanfaatkan api yang berasal dari kayu bakar atau arang. Alhasil, kue tersebut menjadi lebih wangi. Jika ingin mencicipinya, Anda juga dapat membuatnya sendiri.

Bahan-bahannya adalah kelapa setengah tua, ampas kelapa, tepung sagu aren, garam, dan gula merah. Cara membuatnya, campur kelapa parut, ampas kelapa, tepung sagu, dan garam. Aduk hingga rata. Panaskan wajan, taruh 1-2 sendok makan adonan. Ratakan hingga tipis. Lalu masak sampai kering dan matang. Setelah itu, taburi permukaannya dengan gula merah, lipat dua, dan angkat jika sudah garing.

5.Akar kelapa
Pernahkah anda memakan akar kelapa saat lebaran tiba? Jangan bayangkan akar dari pohon kelapa. Makanan ini salah satu hidangan yang wajib disuguhkan di saat lebaran datang. Tentu saja lebaran di Betawi, karena kuliner ini salah satu kuliner khasnya.

Untuk membuatnya diperlukan bahan-bahan sebagai berikut:
1 liter tepung beras putih, 1 butir kelapa, 1/2 kg tepung sagu, 1 butir telur ayam, 1 kg minyak goreng, 1/2 ons mentega, 1/2 kg gula pasir, garam secukupnya, cetakan kue.

Cara membuatnya: 1/2 kelapa digoreng sampai kering lalu tumbuk sampai halus. Tepung digongseng sebentar hingga berwarna agak perak lalu angkat. Campurkan tepung, kelapa, telur, mentega, gula lalu diaduk jadi satu. Masukkan air santan dari 1/2 kelapa tadi secukupnya.

6. Gado-Gado
Makanan khas yang satu ini memang sudah sangat terkenal sekali di Betawi. Siapa sih yang tidak kenal dengan Gado-gado betawi? Perpaduan antara sayuran dan lauk pauk dengan saus kacang ini memang sangat digemari oleh banyak orang. Tak heran penjual Gado-gado sangat banyak seperti jamur di musim hujan.

Bahanya terdiri dari berbagai macam sayuran seperti bayam, kangkung, daun singkong, taoge, nangka, kacang panjang, timun dan daun pare, kadang pakai jagung rebus. Sayuranya direbus hingga matang.

Untuk bumbu sausnya menggunakan kacang tanah sebagai bahan dasarnya. Digoreng dan ditumbuk hingga halus. Bumbu cabai, garam, terasi, kencur, bawang putih, asam muda, gula pun turut dimasukan dan ditambahi sedikit air hingga mengental.Tuang saus kacang diatas sayuran yang sudah direbus.

Penjual biasanya menambahkan tahu atau tempe goreng kedalamnya. Gado-gado biasa disajikan hangat dengan nasi atau lontong. Tak lupa dengan krupuk dan bawang goreng. Untuk masalah penyajian sesuai selera, tambahan-tambahan lauk seperti telur rebus bisa saja untuk menambah variasi. Yang terpenting teruis lestarikan makanan yang sudah menjadi icon kita ini sampai ke anak-cucu kita nanti. Agar mereka bisa merasakan betapa nikmatnya kuliner yang satu ini.

7.Bir Pletok
Bir Pletok. Adalah nama minuman khas dan asli dari Betawi. Asal kamu tahu saja, minuman ini bukanlah minuman keras yang mengandung alkohol! Minuman ini justru dianjurkan untuk diminum karena bagus untuk kesehatan.

Bir pletok terbuat dari rempah-rempah, terutama jahe, yang hanya terdapat di perkampungan Betawi. Bir ini bisa dijadikan sebagai minuman ringan pelepas dahaga yang sangat enak diseruput dalam kondisi hangat dan dingin
Orang Betawi juga percaya, nama pletok itu ditambahkan setelah mendengar bunyi es batu yang beradu dengan tungku yang dikocok. Jadi, bunyinya, pletak… pletok.. Dan ketika minuman ini dituang ke dalam gelas, busa akan segera bermunculan mirip seperti bir. Akhirnya, nama bir pletok menjadi sangat populer di kalangan masyarakat Betawi.

Bir pletok yang asli diracik dari rempah-rempah. Rasa yang paling dominan adalah jahe. Sisanya kapulaga, serai, kayu manis, kayu secang, dan gula. Kamu tahu, kalau minuman ini bisa menghilangkan masuk angin? Hihihi.. coba saja deh!

Minuman ini sering disajikan bersama dengan kue-kue khas Betawi, seperti kue ape, talam, ketan bakar, dan lainnya dalam acara perkawinan adat orang Betawi. Tapi sebenarnya, bir pletok juga bisa diminum kapan saja, ditemani makanan apa saja.

=====================================================================================
Sampai saat tanah moyangku
tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
terlihat murung wajah pribumi
terdengar langkah hewan bernyanyi

Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan Pondok Gede sendiri kini sudah menjadi kawasan yang ditumbuhi gedung-gedung, tidak lagi kawasan asli Betawi di zamannya yang nyaman dan asri.

Kisah dalam novel ini bermula dari banjir Jakarta yang entah mengapa menjadi jadwal musiman. Haji Jaelani adalah salah satu warga Betawi yang harus menerima akibat dari perkembangan Jakarta, dan juga menerima konsekuensinya. Salah satunya adalah banjir akibat hilangnya banyak sekali resapan air yang dulu tersedia.

Hampir semua orang betawi memiliki empang. Selain berfungsi untuk memelihara ikan, empang juga sangat penting fungsinya untuk mengantisipasi banjir. Kini, empang-empang itu sudah berganti dengan gedung pencakar langit dan menghilangkan fungsi antisipasi banjirnya.

Haji Jaelani pun harus membuka harinya dengan melawan air. Sofa basah, teve radio dan alat elektronik yang harus diungsikan merupakan langganan pekerjaan ketika banjir mulai melanda. Pengusaha sapi perah ini juga harus pandai-pandai memindahkan sapi-sapinya ke tempat yang aman.

Usai bersih-bersih, rumah Haji Jaelani justru benar-benar ‘’dibersihkan’’. Dengan alasan perkembangan kota, Haji Jaelani mau tak mau harus tergusur dari kampung halamannya sendiri. Tak ada yang dapat diperbuat. Ia hanya pasrah. Sampai ia pun berujar: ‘’Coba dulu babeh gue ngajarin mantra Jiung yang dipake buat nyelametin orang-orang waktu tentara Jepang ngejarah, pasti tanah gue sekarang masih utuh…bisa selamet dari orang-orang yang pada ngegusur!’’

Haji Jaelani tak sendiri. Kronik penderitaan orang-orang Betawi terjadi nyaris di semua lini. Haji Jarkasi, seorang seniman juga mengalami hal yang sama. Kehidupan murid Haji Bokir ini tidak pernah beranjak lebih baik karena seniman Betawi nyaris tak pernah dihargai.

Novel Kronik Betawi ini memang menceritakan latar belakang Betawi dan orang-orangnya yang bersahaja, polos dan apa adanya. Ada harapan, penderitaan, juga kisah cinta yang didedahkan. Dalam Kronik Betawi ini, pengarangnya mencoba seluas mungkin mengeksplorasi budaya Betawi yang perlahan sudah tergerus zaman. Kendati terbilang sangat muda, Ratih Kumala mencoba memaparkan sejarah Betawi dengan upaya maksimal dan detil dengan gaya orang-orang jadul (jaman dulu) yang khas. Di antara yang sering terlupakan, misalnya bahwa Menteng itu merupakan nama buah, Bintaro itu nama pohon dan Kebon Jeruk memang merupakan kawasan perkebunan jeruk.

Orang Jakarta sekarang hanya tahu bahwa kawasan-kawasan itu adalah kawasan gedongan dan elit. Dalam novel ini, Ratih Kumala bercerita tentang perjalanan Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi ibu kota. Novel ini memang Betawi asli, dengan bahasa dan sudut pandang penceritaan yang sangat alami dan khas Betawi.M A
=====================================================================================
Nama lengkapnya adalah Muhammad Husni Thamrin (M.H Thamrin). Ia dilahirkan di Sawah Besar, Jakarta pada tanggal 16 Februari 1894. Oleh Pemerintah, M.H Thamrin dijadikan sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Ayahnya adalah seorang Belanda dan ibunya orang Betawi. Sejak kecil ia dirawat oleh pamannya dari pihak ibu karena ayahnya meninggal, sehingga ia tidak menyandang nama Belanda.

Ia dikenal sebagai salah tokoh Betawi (dari organisasi Kaoem Betawi) yang pertama kali menjadi anggota Dewan Rakyat di Hindia Belanda (Volksraad), mewakili kelompok Inlanders. Kematiannya penuh dengan intrik politik yang kontroversial.

Tiga hari sebelum kematiannya, ia ditahan tanpa alasan jelas. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet, Jakarta pada tanggal 11 Januari 1941.

Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta dan proyek perbaikan kampung besar-besaran di Jakarta pada tahun 1970-an ("Proyek MHT").

=====================================================================================
SEJARAH BETAWI

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Cina, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an.

Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu.

Seorang budak belian perempuan dari Bali. Diawali oleh orang Sunda, sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.

Waktu Fatahillah dengan tentara Demak menyerang Sunda Kelapa (1526/27), orang Sunda yang membelanya dikalahkan dan mundur ke arah Bogor. Sejak itu, dan untuk beberapa dasawarsa abad ke-16, Jayakarta dihuni orang Banten yang terdiri dari orang yang berasal dari Demak dan Cirebon. Sampai JP Coen menghancurkan Jayakarta (1619), orang Banten bersama saudagar Arab dan Tionghoa tinggal di muara Ciliwung. Selain orang Tionghoa, semua penduduk ini mengundurkan diri ke daerah kesultanan Banten waktu Batavia menggantikan Jayakarta (1619).

Pada awal abad ke-17 perbatasan antara wilayah kekuasaan Banten dan Batavia mula-mula dibentuk oleh Kali Angke dan kemudian Cisadane. Kawasan sekitar Batavia menjadi kosong. Daerah di luar benteng dan tembok kota tidak aman, antara lain karena gerilya Banten dan sisa prajurit Mataram (1628/29) yang tidak mau pulang. Beberapa persetujuan bersama dengan Banten (1659 dan 1684) dan Mataram (1652) menetapkan daerah antara Cisadane dan Citarum sebagai wilayah kompeni. Baru pada akhir abad ke-17 daerah Jakarta sekarang mulai dihuni orang lagi, yang digolongkan menjadi kelompok budak belian dan orang pribumi yang bebas. Sementara itu, orang Belanda jumlahnya masih sedikit sekali. Ini karena sampai pertengahan abad ke-19 mereka kurang disertai wanita Belanda dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, benyak perkawinan campuran dan memunculkan sejumlah Indo di Batavia. Tentang para budak itu, sebagian besar, terutama budak wanitanya berasal dari Bali, walaupun tidak pasti mereka itu semua orang Bali. Sebab, Bali menjadi tempat singgah budak belian yang datang dari berbagai pulau di sebelah timurnya.

Orang Tiong Hoa senang main kartu. Lukisan A van Pers dari tahun 40-an abad yang lalu, yang diterbitkan pada tahun 1856 di Den Haag. Sementara itu, orang yang datang dari Tiongkok, semula hanya orang laki-laki, karena itu mereka pun melakukan perkawinan dengan penduduk setempat, terutama wanita Bali dan Nias. Sebagian dari mereka berpegang pada adat Tionghoa (mis. Penduduk dalam kota dan ‘Cina Benteng’ di Tangerang), sebagian membaur dengan pribumi (terutama dengan orang Jawa dan membentuk kelompok Betawi Ora, mis: di sekitar Parung). Tempat tinggal utama orang Tionghoa adalah Glodok, Pinangsia dan Jatinegara.

Keturunan orang India -orang koja dan orang Bombay- tidak begitu besar jumlahnya. Demikian juga dengan orang Arab, sampai orang Hadhramaut datang dalam jumlah besar, kurang lebih tahun 1840. Banyak diantara mereka yang bercampur dengan wanita pribumi, namun tetap berpegang pada ke-Arab-an mereka.

Di dalam kota, orang bukan Belanda yang selamanya merupakan mayoritas besar, terdiri dari orang Tionghoa, orang Mardijker dari India dan Sri Lanka dan ribuan budak dari segala macam suku. Jumlah budak itu kurang lebih setengah dari penghuni Kota Batavia.

Orang Jawa dan Banten tidak diperbolehkan tinggal menetap di dalam kota setelah 1656. Pada tahun 1673, penduduk dalam kota Batavia berjumlah 27.086 orang. Terdiri dari 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor (India), 981 orang Bali dan 611 orang Melayu. Penduduk yang bebas ini ditambah dengan 13.278 orang budak (49 persen) dari bermacam-macam suku dan bangsa (demikian Lekkerkerker). Gereja Immanuel di Gambir pada pertengahan abad ke 18

Sepanjang abad ke-18, kelompok terbesar penduduk kota berstatus budak. Komposisi mereka cepat berubah karena banyak yang mati. Demikian juga dengan orang Mardijker. Karena itu, jumlah mereka turun dengan cepat pada abad itu dan pada awal abad ke-19 mulai diserap dalam kaum Betawi, kecuali kelompok Tugu, yang sebagian kini pindah di Pejambon, di belakang Gereja Immanuel. Orang Tionghoa selamanya bertambah cepat, walaupun sepuluh ribu orang dibunuh pada tahun 1740 di dalam dan di luar kota.

Oleh sebab itu, apa yang disebut dengan orang atau Suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu. Antropolog Univeristas Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA menaksir, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893.

Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Casle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, di mana dikategorisasikan berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.


Rumah Bugis di bagian utara Jl Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang imulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota
Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moors, orang Jawa dan Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu. foto pada kartu pos dari awal abad ke 20 menggambarkan rumah-rumah Tiong Hoa di Maester. Jalan ke kiri menuju pasar Jatinegara lama. Sedangkanjalan utama adalah Jatinegara Barat menuju arah selatan. Namun, pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.

Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Moh Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi - dalam arti apapun juga - tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, ’suku’ Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’ Betawi tidaklah pernah tergusur datau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.
*
Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran.
*
22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956).
*
4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia.
*
1 April 1905 berubah nama menjadi 'Gemeente Batavia'.
*
8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
*
8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.
*
September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.
*
20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
*
24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praj'a Jakarta.
*
18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja Djakarta Raya.
*
Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.
*
31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.
*
Tahun1999, melalaui uu no 34 tahun 1999 tentang pemerintah provinsi daerah khusus ibukota negara republik Indonesia Jakarta, sebutan pemerintah daerah berubah menjadi pemerintah provinsi dki Jakarta, dengan otoniminya tetap berada ditingkat provinsi dan bukan pada wilyah kota, selain itu wiolyah dki Jakarta dibagi menjadi 6 ( 5 wilayah kotamadya dan satu kabupaten administrative kepulauan seribu)
* Undang-undang Nomor 29 tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

Diambil dari Bamus Betawi.

1 Response to "ABOUT BETAWI :"

BlackPaper mengatakan...

nice information nih bang :)

ane mau nanya, kalo mau beli Bir Pletok di jakarta dimana ye bang ? ane kagak pernah nemu tuh kecuali kalo pas lagi ada event aja baru nemu.. mungkin ada nyang tau dimari :D

thx

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45
:46 :47 :48 :49
:50 :51 :52 :53
:54 :55 :56 :57
:58 :59 :60 :61
:62 :63

Poskan Komentar

powered by Blogger | Erwinfm by Facebook